Senin, April 12, 2010
Menjadi Indah Pada Waktunya
Sejenak bagi sebagian orang, kata-kata ini terdengar tak asing di telinga,, namun, banyak juga yang masih asing dengan kata-kata ini,, ada yang menganggap biasa aja, ada juga yang gak biasa, dan ada juga yang menganggapnya luar biasa mungkin...
Kata-kata ini memang terlihat simple, tapi apabila kita kaji secara mendalam,, maka akan kita temukan suatu makna besar yang tersimpan,, universal dan membumi,, yapps,,bukan melebih-lebihkan,, atau istilah anak sekarang "LEBAY"... tidak... jangan katakan kalau ini melebih-lebihkan... karena segala sesuatu yg hadir di dunia ini, sudah di porsikan secara baik oleh sang MAHA ADIL,, jadi apalah artinya melebih-lebihkan, toh itu juga gak akan mengurangi hakikat dan makna dari sesuatu...
Menjadi Indah Pada Waktunya...
Sebuah rangkaian kata yang mengalun lembut searah dengan putaran dunia...
Mampu menyelami seluruh elemen jiwa,,, memberi spirit yg besar bagi raga...
Meyakini bahwa semua yang hadir di dunia ini telah melewati syarat dan porsinya telah di sesuaikan dengan kehendak-Nya...
Membenamkan amarah, kebencian,,, dan menghilangkan duka dan lara yg ada dalah hati manusia...
Mendatangkan sebuah kisah yg tak lekang oleh masa...
Kehidupan yang ada saat ini, akan menjadi indah pada tempatnya..
Karena sebuah makna yang terpendam akan selalu hadir dan membekas dalam relung-relung sisi kemanusiaan seorang manusia yang tak pernah berbohong...
Kualitas jiwa dan raga yang baik,, akan memperbaiki posisi rasa dan hatimu,, Berharap semuanya berjalan secara maksimal...
Perbaiki Niat,,, Jalani Proses,,, Perkuat Ikhtiar,,, Sembari menengadah memanjatkan doa yang tulus,,, berharap semua MENJADI INDAH PADA WAKTUNYA... Dengan Keridhaan ALLAH yang menentukan dan mengatur seluruh perjalanan kehidupan ini...
Hidup Hanya Sekali...
Buatlah Yang Berarti...
Setelah Itu, Mati...
mez <> by
* menjadi indah pada waktunya*
Minggu, Januari 24, 2010
SOLIDARITAS, PERSAUDARAAN & CINTA
Membangun solidaritas laksana menyusun rangkaian mozaik-mozaik kehidupan dalam sebuah perjalanan kehidupan. Solidaritas yang kita bangun bersama dalam bingkai persaudaraan tidak akan pernah pudar . Karena komitmen yang kita bangun adalah sebuah anugerah yang terindah dari sebuah kata SOLIDARITAS. Tidak mudah menjaga komitmen bersama yang telah kita ikrarkan. Sebuah komitmen memerlukan keseriusan dalam menjalaninya.
Solidaritas itu tidak memberikan ruang kepada kepentingan pribadi maupun kelompok. Tapi solidaritas yang kita ikrarkan akan menjaga kepentingan bersama. Mengutamakan kepentingan pribadi maupun kelompok diatas kepentingan umum adalah kesalahan besar. Kesalahan besar tersebut bukan saja menzalimi hak-hak bersama pada saat komitmen itu kita ikrarkan, namun hal tersebut akan tersubjektifikasi menjadi hal wajar bagi generasi berikutnya. Dan Kita tidak menginginkan hal itu terjadi...
Sebuah jargon yang kita perjuangkan bersama yakni, Membangun Solidaritas Dalam Bingkai Persaudaraan. Persaudaraan Yang Memercikkan Cinta Dalam Hati-Hati Kita. Sekali lagi, jargon kita adalah solidaritas, persaudaraan dan cinta. Tidak dipetakan oleh egoisme yang tak terbendung. Karena sesungguhnya egoisme yang tak terbendung adalah simbol dari kekalahan yang akan dirasakan nantinya. Buang jauh-jauh egoisme yang tak terbendung, karena itulah yang akan menghancurkan kita. Yang ada hanyalah solidaritas, persaudaraan & cinta. Ketiga kata itu sangat jauh berbeda dengan kata egoisme. Karena egoisme tidak dibangun atas kepentingan bersama, tetapi solidaritas dibangun atas komitmen yang telah kita ikrarkan bersama.
''Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu'.'' (Ali 'Imran: 26). Apa yang dikehendaki Allah SWT jadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan jadi. Manusia bisa merencanakan tetapi Allah jua yang menentukan.
Silih bergantinya siang dan malam, kemenangan dan kekalahan, dan terjadinya perubahan menunjukkan kuasa Allah Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta serta keterbatasan kita sebagai manusia. Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah.'' (Yaa Siin: 82).
Memang, kita bisa memahami bahwa Kekalahan adalah sesuatu yang paling tidak disukai banyak orang dan sulit untuk bisa diterima. Namun bukankah sebelum bertanding kita telah siap segalanya? siap menerima kekalahan dan siap membantu yang menang dalam konteks perjuangan untuk rakyat. Kalaupun tidak terlibat secara struktur bukankah juga bisa dengan cultural “ mencintai tidak selamanya memuji; mengkritik adalah bagian dari mencintai”. Dan memosisikan diri sebagai pengkritik adalah satu diantara cara bijak. Namun ingat..! mengritik yang tidak disertai dengan solusi adalah menghujat.
Karena itu, memahami kekalahan dengan jiwa besar, berpikir positif dan bijak dalam menghadapinya. Sesungguhnya anda telah memenangkan peperangan. Memenangkan peperangan dalam seratus pertempuran belum menunjukan kemenangan sesungguhnya. kemenangan sesungguhnya adalah sejauh mana anda merubahnya menjadi energi positif, memanusikan manusia, serta turut terlibat dalam substansi manifestasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dengan hal semacam itu anda akan selamanya dikenang sebagai pemimpin yang baik dan bijaksana.
Itulah hakikat berfastabiqulkhairat; (berlomba-lomba dalam kebajikan) karenya jika kita hanya silau pada kesenangan dan kenikmatan dunia, yang kita jumpai hal yang tidak pasti, semu, utopis, bahkan menyakitkan akan terus menghantui.
Kemenangan lalu diekspresikan dengan KESOMBONGAN, CONGKAK, dan bahkan lupa diri kepada yang memberi nikmat. Namun menerima kemenangan sebagai Amanah, Memimpin Dengan Penuh Cinta Dan Ketulusan Hati Adalah Sebuah Kemenangan Sempurna. Tidak ada yang kalah bukan?
KALIAN SEMUA PEMENANGNYA...
“Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang,
satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang,
tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang”
“...Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai diwaktu kita susah. Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kita tidak bisa melihat keduanya...”
"Cinta datang Kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan"
...Ketenangan Hari adalah tujuan utama untuk hidup bijaksana. Sekarang akupun mengetahui bahwa berbagai kelebihan yang lain tidak menjamin ketenangan hati seseorang,
karena ketenangan bukan tumbuh dari harta yang berlimpah, bahkan bukan dari kesehatan...
"Dengan ketenangan, sebuah gubuk dapat menjadi istana yang indah, lain halnya dengan ketamakan yang mengubah istana menjadi sebuah kandang dan penjara"
Sebuah Sumbangan Pemikiran Dari Diriku Yang Masih Jauh Dari Sempurna…
Maulana Naoval “Hyde Tetsuya Alkatiri”
Agribisnis/Sosek/EKP 2005
Hidup Hanya Sekali
Buatlah Yang Berarti
Setelah Itu Mati…
Online 1x24 jam :
Contact Person : 085241972287 / 081341543654
E-mail/Facebook : nophal_larcenciel@yahoo.co.id
Rabu, Agustus 06, 2008
Hidup (Part I)
HAri ini adalah renungan atas kehidupan kita kemarin... Itulah kenapa aku suka untuk merenung... Kita bisa mengintrospeksi atas perjalanan yang kita hadapi kemarin...Kesalahan yang telah lalu, berharap tak terulang tuk hari ini dan esok hari...
Bermuhasabah dihari-hari kita, merupakan cara untuk mematangkan persepsi kita terhadap hari esok yang tak nyata...
HAri kemarin memberikan kesan yang mendalam bagi pelaksana kehidupan (dirikita.red).
Hari ini membawa kita pada perenungan akan hari kemarin, dan seterusnya... Apa yang kita lakukan berharap tak terulang yang buruknya, dan berjalan pada posisi yang sebenarnya (baik.red)...
Hidup hanya sekali
buatlah yang berarti
habis itu mati
kira-kira seperti itulah untaian kalimat bijak dari seorang Cheguevara...
Tugas kita adalah, tanya diri kita, apa yang bisa kita lakukan untuk diri kita? apakah hanya diam, dengar dan dengkur (tidur.red) saja?
Thankyu for attention...
To be continued...
(nophal_meo_L'Arc-en-Ciel)
Selasa, Juli 29, 2008
MahaSisWa = PrObLEm SoLVeR bUKan TRouBle MaKer (Part I)
Beberapa tahun belakangan ini merupakan masa-masa yang krisis bagi bangsa
Cobaan demi cobaan datang silih berganti. Derita demi derita tak bosan-bosannya datang menyapa. Bencana demi bencana seakan antri mengunjungi kita. Petaka demi petaka timbul tenggelam di depan mata. Itulah rasanya gambaran yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Masalah yang satu belum selesai sudah datang masalah yang lain, persoalan yang satu belum dapat di atasi sudah menunggu persoalan yang lain. Huh sungguh sangat berat beban yang dihadapi oleh bangsa dan masyarakat
Belum lagi sirna duka bangsa dari bencana Lumpur Lapindo yang mengisahkan kepiluan dan duka bagi masyarakat setempat (Porong.red) dan juga keresahan bagi seluruh masyarakat
Cobaan yang dihadapi bangsa ini tak hanya datang berupa musibah bencana alam, tapi bencana dalam bentuk wabah penyakit tak ubahnya sebagai sebuah ancaman yang serius. Wabah demam berdarah dan flu burung hingga hari ini terus menjadi ancaman besar, setiap hari merenggut nyawa sejumlah penduduk. Kemudian busung lapar dan polio menjadi persoalan yang tidak pernah tuntasnya dan kembali lagi merenggut masa depan generasi kita. Sementara ancaman HIV/AIDS tidak bisa lagi dianggap main-main, penderita maupun korbannya dalam tahun terakhir ini menunjukkan angka yang fantastis.
Berbagai kecelakaan yang terjadi belakangan ini pada jalur transportasi darat, laut, maupun udara semakin memperpahit derita bangsa. Tabrakan kereta api, tabrakan maut di jalan tol, kapal yang tenggelam, dan kecelakaan pesawat terbang seringkali menghiasi media massa kita yang tentunya kesemuanya berakhir dengan luka dan duka yang dalam bagi keluarga, dan mengakibatkan kerugian baik moril maupun materil, khususnya bagi keluarga korban yang tertimpa musibah.
Sungguh ironis memang, ditengah gejolak bangsa kita yang semakin hari semakin tak terbendung. Dari gejolak politik, gejolak ekonomi, sosial dan sampai kebudayaan makin santer saja terjadi. Siapa yang patut disalahkan? Pemerintah, masyarakat, alim ulama, pejabat-pejabat, elit politik, artis, selebritis ataukah diri anda yang salah?
Kasus pembunuhan makin merajalela, dari pembunuhan bermotifkan dendam, keuangan, seks, sampai dengan hanya karena ketersinggungan sudah hamper tiap hari menjadi sorotan kita di media-media masa. Pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Very Idham Heniyansyah atau Ryan, merupakan yang paling menghebohkan.
Sangat jauh berbeda dengan dahulu, dimana ketentraman selalu ada, kedamaian masih bias kita rasakan tiap waktu, meskipun ada gejolak, itu adalah rangkaian dari proses kehidupan. Tapi yang terjadi kini sungguh sangat pedih dan sangat miris jika kita bayangkan.
Deretan derita masyarakat-pun semakin diperpanjang oleh kebijakan menaikan BBM yang berdampak melonjaknya harga barang kebutuhan pokok. Bayang-bayang kemiskinan semakin menyelimuti rakyat, PHK besar-besaran menambah angka pengangguran dimana-mana.
Yang menjadi korban dari berbagai problema tersebut adalah rakyat kecil, kehidupannya semakin terpuruk. Banyak diantara mereka yang mulai kehilangan harapan hidup untuk menatap masa depan, karena tidak lagi memiliki tempat tinggal, pekerjaan, hilangnya mata pencaharian, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun tidak menentu, tergantung pada sumbangan dan pemberian pihak lain.
Sementara disisi lain banyak terjadi drama yang memilukan di negeri ini. Sesama anak bangsa seperti telah kehilangan nurani sehingga begitu mudahnya untuk menyulut bentrokan dan tawuran. Sementara kalangan calon intelektual kita kehilangan akal sehat, melakukan tawuran di kampus sendiri. Kini budaya anarkis telah masuk di dunia kampus yang mestinya membudayakan idiologis dan rasionalitas.
Mengapa badai, bencana dan cobaan tersebut dengan secara bertubi-tubi datang menghantam negeri kita? Apakah peristiwa demi peristiwa tersebut adalah sekadar kejadian alam biasa yang tidak bisa dielakkan?
Yang jelas peristiwa demi peristiwa tersebut merupakan peringatan Allah bagi manusia yang tidak mempertimbangkan keseimbangan alam. Adapun bencana alam yang terjadi terkait dengan ulah segelintir manusia yang didasari atas ketamakan, keserakahan, dan ketidakperdulian manusia terhadap alam yang sesukanya menggali, menebang, merobohkan, membabat, meruntuhkan, membakar, mencemari, merusak, memusnahkan, dan melenyapkan kekayaan alam yang ada. Akibat perbuatan tersebut, keseimbangan alam terganggu, akhirnya terjadilah peristiwa alam yang menyebabkan malapetaka dan penderitaan yang seakan tak berhenti tersebut.
Sedangkan terkait dengan musibah-musibah lain yang secara silih berganti datang, baik berupa penyakit maupun kecelakaan adalah "teguran" Tuhan kepada makhlukNya yang semakin jauh dari jalan agama, semakin banyak yang bergelimang dosa, dan semakin larut dengan kesesatan.
Menyikapi segala macam cobaan yang datang silih berganti tersebut, kita diminta untuk lebih arif. Tak ada seorang pun yang kebal terhadap segala bencana. Biasakanlah untuk melihat bahwa pada akhirnya ada suatu kebaikan dalam sebuah peristiwa yang pada awalnya terlihat merugikan. Meski demikian, tidak semua orang dapat mengetahui maksud sebuah peristiwa yang dialaminya. Bagi orang yang menyerahkannya pada takdir Allah adalah menerima setiap kejadian apa pun dengan keinginan untuk mencari tahu bahwa pastilah ada kebaikan di dalamnya dan kemudian menerimanya dengan tawakal.
Menghadapi berbagai musibah yang menimpa kita ini, tidak ada jalan terbaik bagi kita kecuali meningkatkan ketabahan dan kesabaran, mempertebal keimanan dan ketakwaan, serta pasrah dan ikhlas dalam menghadapi setiap cobaan yang datang. Sebagai hamba, kita hanya mungkin mengadukan segala apa yang terjadi kepada Yang Kuasa dengan harapan segera datang keadilan dan Allah berkenan mengganti kesulitan dengan kemudahan, untuk mengganti penderitaan dengan kebahagiaan, mengganti dukacita menjadi sukacita, serta mengganti kegagalan dengan kejayaan. Tentunya berdoa dan mengadu saja kepada Allah tidak cukup, kita juga harus bekerja keras dan berbuat sekuat tenaga untuk terhindar dari segala persoalan.
Melihat kebaikan dalam segala hal bukan berarti mengabaikan kenyataan dari peristiwa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, orang beriman bertanggung jawab untuk mengambil tidakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah.
Jadikan diri kita (mahasiswa.red) sebagai problem solver atau bagian dari solusi bukan trouble maker atau bagian dari masalah yang ada. Masalah yang ada di negeri ini, menjadikan bahan untuk perbaikan diri kita. Untuk ke luar berbagai cobaan yang melanda bangsa
..Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya...
(Andrea Hirata. - Laskar Pelangi)
Hiduplah untuk menjadi problem solver, bukan untuk menjadi trouble maker…
(Pribadi Penulis)
*)Penulis : Maolana Naoval
